<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4517026991650992716</id><updated>2011-12-28T14:49:10.645+07:00</updated><category term='KECURANGAN DALAM UN'/><category term='UN'/><category term='upaya guru'/><category term='srtifikasi'/><category term='sekolah'/><category term='bp'/><category term='pendidikan'/><category term='UJIAN NASIONAL'/><category term='mts'/><category term='depag'/><category term='internet'/><category term='guru'/><category term='siswa'/><category term='berkualitas'/><category term='melatih siswa'/><category term='dana pendidikan'/><category term='memotivasi'/><category term='guru bk'/><title type='text'>Artikel Forum Pendidikan Bagi Para Guru dan Siswa</title><subtitle type='html'>Dunia Pendidikan - Guru - Siswa - Orangtua</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mylorent.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4517026991650992716/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylorent.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Lorentina, S.Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02302632502350882175</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_n7jGUPDtDWI/Sh3_H7mmc_I/AAAAAAAAAAM/SgF-Abbsyx4/S220/renti-2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4517026991650992716.post-7422151855664480190</id><published>2010-01-06T22:30:00.001+07:00</published><updated>2010-01-06T22:42:00.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KECURANGAN DALAM UN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UJIAN NASIONAL'/><title type='text'>ADILKAH BILA GURU YANG DISALAHKAN?</title><content type='html'>Ditinjau dari sisi manapun, perbuatan guru yang melakukan kecurangan saat UN berlangsung atau memanipulasi hasil UN adalah salah. Kecurangan itu telah menyalahi peran, tugas dan tanggung jawab guru sebagai  pengajar dan pendidik.&lt;br /&gt;Dalam kasus ini, guru telah mengingkari pentingnya nilai kejujuran. Sebagai pendidik, idealnya guru mampu bertugas dan berperan sebagai konservator (pemelihara), transmitor (penerus), transformator (penerjemah) dan organisator (penyelenggara) sistem nilai yang merupakan sumber norma bagi siswa dalam proses menuju kedewasaannya. Tapi adilkah bila semua kesalahan itu hanya ditujukan pada guru?&lt;br /&gt;Bukan hanya siswa yang merasa tertekan dalam menghadapi UN, guru pun demikian, Ada keharusan tak tertulis yang meminta agar guru berhasil melatih siswa dengan baik sehingga mereka berhasil lulus. Tingkat kelulusan suatu sekolah akan berpengaruh terhadap tingkat kelulusan kabupaten/ kota dan berpengaruh pula terhadap capaian kelulusan tingkat propinsi.&lt;br /&gt;Bila siswa berhasil, sukses, pintar, bukan guru yang dipuji dan dipandang berhasil mendidiknya. Siswa berhasil karena siswa itu sendiri memang pintar. Tapi bila siswa gagal, seringkali gurulah yang jadi kambing hitam dan sasaran empuk untuk menimpakan kegagalan itu. Guru dianggap tidak becus mengajar, melatih, memotivasi dan mengubah siswa.&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun, standar kelulusan mengalami peningkatan. Tujuannya tak lain agar kualitas pendidikan pun meningkat pula. Yang jadi pertanyaan adalah percayakah kita pada hasil UN tahun-tahun sebelumya sebagai suatu hasil yang murni sehingga standar kelulusan perlu selalu ditingkatkan? Beberapa guru dari Komunitas Air Mata Guru (KAMG) yang melaporkan kecurangan pada UN 2007 lalu menandakan bahwa UN tahun lalu tidak murni. Tidak mustahil hal serupa juga terjadi di daerah-daerah lain. Hasil UN yang tak menggambarkan hasil sesungguhnya itu pun dijadikan tolok ukur  kualitas pendidikan dan ditindaklanjuti dengan menaikan standar nilai kelulusan.&lt;br /&gt;Dalam psikologi, sebuah aksi akan disambut oleh reaksi. Kecurangan dalam UN adalah salah satu reaksi negatif yang dipicu oleh rasa tidak percaya diri. Percaya diri bukan sifat yang bisa tumbuh dengan sendirinya. Percaya diri itu perlu dilatih, ditumbuhkan dan ditopang. Kita tak perlu ragu mengakui bahwa kita belum percaya diri untuk menampilkan dunia pendidikan kita di lingkup ASEAN sekalipun. Bagaimana bisa  percaya diri, bila siswa belajar di kelas yang hampir roboh, dengan kondisi gizi yang mengkhawatirkan dan beragam persoalan yang membelit dunia pendidikan kita.  Sejatinya, kondisi apapun bukan alasan  untuk tak percaya diri. Tapi inilah kenyataannya. Pemerintah tidak bisa begitu saja menyamakan kemampuan siswa di seluruh nusantara dengan kondisi mereka yang berbeda.&lt;br /&gt;Tuntutan pemerintah belum sebanding dengan apa yang dapat mereka berikan. Peningkatan standar nilai kelulusan yang tidak dibarengi dengan peningkatan dukungan standar minimal pendidikan membuat sekolah-sekolah terutama di daerah pinggiran merasa ragu dan tak percaya diri dalam menghadapi UN. Pemerintah pun tak bergeming dengan tuntutan pemenuhan anggaran pendidikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;20 persen dari APBN/APBD&lt;/span&gt;, malahan kenyataan pahit harus diterima karena gaji guru dimasukkan ke dalam anggaran hingga tiba-tiba anggaran pendidikan menjadi meningkat. Peningkatan yang semu.&lt;br /&gt;Sekolah itu mahal. Tidak semua orang bisa menempuhnya. Tidak lulus adalah mimpi buruk. Terlebih bagi siswa dari kalangan tak mampu. Inilah alasan beberapa guru di Deli Serdang  sehingga melakukan kecurangan saat UN.&lt;br /&gt;Ironis. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu digiring ke kantor polisi. Mereka harus mempertanggungjawabkan kesalahan karena bisikan nurani untuk menolong siswa dari ketidakadilan sistem pendidikan kita. Adilkah bila hanya para guru itu yang disalahkan? Sebenarnya mereka juga adalah korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artikel ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat di Kolom Forum Guru tanggal 22 Mei 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517026991650992716-7422151855664480190?l=mylorent.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylorent.blogspot.com/feeds/7422151855664480190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylorent.blogspot.com/2010/01/adilkah-bila-guru-yang-disalahkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4517026991650992716/posts/default/7422151855664480190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4517026991650992716/posts/default/7422151855664480190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylorent.blogspot.com/2010/01/adilkah-bila-guru-yang-disalahkan.html' title='ADILKAH BILA GURU YANG DISALAHKAN?'/><author><name>Lorentina, S.Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02302632502350882175</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_n7jGUPDtDWI/Sh3_H7mmc_I/AAAAAAAAAAM/SgF-Abbsyx4/S220/renti-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4517026991650992716.post-4282227242036427216</id><published>2009-05-28T09:48:00.010+07:00</published><updated>2009-05-28T11:26:21.627+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='upaya guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='melatih siswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memotivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siswa'/><title type='text'>Upaya Guru Memotivasi Siswa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Lorentina, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Siswa ini tidak memiliki motivasi”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Demikian ungkapan yang sering kita dengar ketika mengomentari siswa yang tidak memperlihatkan perubahan sikap atau hasil belajar. Komentar di atas tidak boleh berhenti sampai disitu. Guru harus mencari tahu penyebab mengapa siswa tidak memiliki motivasi. Apakah motivasi merupakan barang mewah dan langka dalam dunia pendidikan sehingga tidak setiap siswa dapat memilikinya? Dapatkah motivasi ditumbuhkan dan bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Secara singkat dan sederhana, motivasi berarti dorongan atau kesiapsediaan melakukan sesuatu. Setiap perilaku manusia pada hakikatnya didasari motif tertentu baik disadari maupun tidak. Motivasi dapat tumbuh dengan sendirinya (internal), namun lingkungan pun dapat menjadi stimulator yang efektif untuk memotivasi (eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam dunia pendidikan, motivasi memiliki peran penting terutama yang berkaitan dengan usaha siswa dalam mengoptimalkan potensinya. Berbagai upaya pasti telah ditempuh guru untuk meningkatkan motivasi siswa. Namun terkadang hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Memotivasi itu tidak sekadar cuap-cuap menuturkan nasehat panjang lebar bahwa masa depan itu penting karena pada dasarnya siswa juga menyadari hal itu. Yang harus dicari penyebabnya adalah mengapa siswa masih berleha-leha padahal dia tahu kebenaran nasehat yang guru ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Motivasi, sebagai suatu kekuatan, bukan merupakan substansi yang langsung dapat diamati. Namun, dapat diidentifikasi dari beberapa indikatornya, yaitu dari lama tidaknya siswa melakukan kegiatan, frekuensi kegiatan, ketekunan mencapai tujuan, dan bagaimana pengorbanannya dalam mencapai tujuan (uang, tenaga, waktu, pikiran bahkan nyawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Guru memiliki peran strategis dalam membantu siswa untuk meningkatkan motivasinya. Tidak perlu kecewa terhadap respon dan hasil yang didapat, yang penting guru telah dan terus berusaha. Seribu guru pasti memiliki beribu cara, namun setidaknya beberapa upaya di bawah ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah pemahaman kita dalam membimbing siswa.&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;1&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;) Tidak pelit memberikan pujian bila siswa memang pantas mendapatkannya. Dengan pujian yang sesuai (tidak berlebihan), siswa akan merasa dirinya berharga. Perasaan berharga akan memengaruhi konsep diri yang pada akhirnya berpengaruh pula pada motivasinya&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;2&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;) Menetapkan tujuan sedekat mungkin. Tujuan yang terlalu jauh akan membuat siswa lalai dan merasa tenang karena menganggap masih ada hari esok untuk memperbaiki diri. Hendaknya siswa selalu diingatkan untuk segera mencapai tujuan jangka pendek dalam waktu yang singkat. Misalnya dalam dua jam pelajaran dia harus menguasai materi tertentu dan mampu menyelesaikan dua soal dengan baik. Bandingkan dengan tujuan jangka panjang: kelulusan, naik kelas, atau yang lebih muluk lagi yaitu menjadi orang yang berguna bagi bangsa, negara dan agama. Semakin dekat tujuan, semakin tinggi semangat untuk mencapainya.&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;3&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;) Tanamkan konsep now and here. Guru perlu membantu siswa menyadari pentingnya keberadaan dirinya pada saat ini (now) dan disini (here). Apa yang dicita-citakan di masa depan, sangat tergantung pada detik ini dan di sini. Tak ada kesempatan esok hari untuk memperbaiki diri. Esok tak bisa diandalkan karena esok tak pernah datang. Yang ada hanyalah sekarang.&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;4&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;) Melatih siswa banyak bertanya, baik untuk diajukan maupun untuk dijawabnya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan prinsip&lt;strong&gt;&lt;em&gt; 5W+1H (what, who,when, where, why and how)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; diharap siswa dapat mengasah kekritisannya dalam menghadapi segala hal yang berkaitan dengan pelajaran. Penerapannya, siswa dibimbing untuk terbiasa mempertanyakan segala hal yang tidak diketahuinya, dan untuk memperoleh jawabnya, mereka diharuskan membaca atau meneliti lalu menyampaikannya lagi secara lisan maupun tertulis kepada orang lain. Kekritisan ini juga dapat diaplikasian dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah kehidupannya di kemudian hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517026991650992716-4282227242036427216?l=mylorent.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylorent.blogspot.com/feeds/4282227242036427216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylorent.blogspot.com/2009/05/upaya-guru-memotivasi-siswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4517026991650992716/posts/default/4282227242036427216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4517026991650992716/posts/default/4282227242036427216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylorent.blogspot.com/2009/05/upaya-guru-memotivasi-siswa.html' title='Upaya Guru Memotivasi Siswa'/><author><name>Lorentina, S.Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02302632502350882175</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_n7jGUPDtDWI/Sh3_H7mmc_I/AAAAAAAAAAM/SgF-Abbsyx4/S220/renti-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4517026991650992716.post-5410957251947891826</id><published>2009-05-28T09:20:00.002+07:00</published><updated>2009-05-28T11:33:01.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru bk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='depag'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berkualitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='srtifikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dana pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bp'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>Guru Berkualitas untuk Pendidikan Berkualitas</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Lorentina, S.Pd&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan SDM yang berkualitas pula. Guru merupakan figur sentral dalam pelaksanaan pendidikan. Menyoal kualitas pendidikan nasional berarti menyoroti kualitas guru. Namun apa artinya menggugat kualitas guru sementara banyak faktor pendukung lahirnya guru berkualitas belum ditangani secara serius.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan harkat dan martabatnya, guru harus punya “nilai jual” yang tinggi. Dalam hal ini kualitas adalah jawabannya. Lalu bagaimana caranya meningkatkan kualitas guru? Apa cukup dengan penataran, sosialisasi program atau pembekalan ini itu? Memang itu banyak sisi positifnya. Tapi what next? Bagaimana kenyataan selanjutnya? Guru menjalani hari dengan rutinitas mengajar. Sementara itu, segala hal berkembang. Perkembangan tak dapat diikuti bila hanya berdiam diri.&lt;br /&gt;Untuk mengikuti perkembangan, guru harus senang membaca. Minimal memiliki koleksi buku populer terbaru yang berkaitan dengan bidang ajarnya. Bila guru hanya menyampaikan materi yang bersumber pada buku-buku lama, dikhawatirkan akan ketinggalan informasi karena pengetahuan sesantiasa berkembang. Guru yang ingin maju biasanya tertarik pada hal-hal di luar bidang kajiannya sehingga berminat untuk membaca berbagai macam buku. Selain untuk menambah wawasan dan daya kritis, juga membuat siswa akan merasakan kesegaran informasi dari materi yang berkaitan dengan pelajaran tsb.&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan surat kabar. Segala informasi aktual terangkum didalamnya. Begitu vitalnya informasi di zaman ini hingga ada anggapan bahwa bila seseorang menguasai informasi, maka dunia ada dalam genggamannya. Memang tidak mungkin untuk menguasai segalanya, tapi minimal guru dapat mengikuti isi pebincangan aktual dan perkembangan hal-hal terbaru.&lt;br /&gt;Untuk menguasai informasi dengan baik, diperlukan teknologi. Tak perlu malu mengakui bahwa masih banyak guru yang belum kenal internet. Jangankan internet, mengoperasikan komputer pun masih banyak yang belum cakap. Sementara itu, siswa telah beberapa langkah di depan. Akibatnya terjadilah kesenjangan antara kemampuan siswa dan guru. Tidak salah bila siswa lebih maju. Yang salah adalah bila guru tidak termotivasi untuk mengimbanginya.&lt;br /&gt;Setelah mampu memiliki buku terbaru, berlangganan koran dan internet, yang dibutuhkan guru adalah waktu. Kapan guru punya waktu untuk membaca, menulis dan mengembangkan diri bila dalam sehari harus mengajar di beberapa sekolah, memberi les di sana sini atau bahkan mengojek hingga larut malam? Lebih menyedihkan lagi bila nyatanya untuk memenuhi kebutuhan primer saja masih kesulitan.&lt;br /&gt;Peningkatan kualitas guru memerlukan kerjasama yang baik antara guru dan pemerintah. Bila alokasi 20% dana pendidikan benar-benar terwujud, maka seabrek masalah guru seperti kekurangan guru, kualifikasi pendidikan dan kesejahteraan dapat diatasi. Kurangnya kesempatan dan kemampuan guru untuk mengembangkan diri adalah salah satu penyebab terhambatnya mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas. Di sisi lain, adalah sia-sia bila kesejahteraan guru meningkat namun guru tidak mengalokasikan pendapatannya untuk mengembangkan diri, melainkan sibuk merencanakan renovasi rumah atau mengambil kredit mobil. Maka, yang tak kalah pentingnya adalah motivasi guru itu sendiri untuk meningkatkan kemampuannya. Apa artinya ensiklopedi berderet di lemari kaca dan koran diantar loper setiap pagi bila tak ada dorongan untuk membaca dan megkritisi situasi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517026991650992716-5410957251947891826?l=mylorent.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylorent.blogspot.com/feeds/5410957251947891826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylorent.blogspot.com/2009/05/guru-berkualitas-untuk-pendidikan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4517026991650992716/posts/default/5410957251947891826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4517026991650992716/posts/default/5410957251947891826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylorent.blogspot.com/2009/05/guru-berkualitas-untuk-pendidikan.html' title='Guru Berkualitas untuk Pendidikan Berkualitas'/><author><name>Lorentina, S.Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02302632502350882175</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_n7jGUPDtDWI/Sh3_H7mmc_I/AAAAAAAAAAM/SgF-Abbsyx4/S220/renti-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
